Archive for October, 2007

Mencoba Sari Air Laut – NIGARIN

October 29, 2007

Saya tertarik mencoba NIGARIN setelah mencoba membaca majalah TRUBUS mengenai artikel “Janji Sembuh dari Ladang Garam”. Dalam Sari Air Laut NIGARIN terkandung mineral Magnesium yang mana Magnesium dalam Sari Air Laut bisa mencegah terjadinya enzim trigliserida dari makanan yang kita konsumsi sehingga tak membuat badan gemuk.

Kalau di Jepang Sari Air Laut disebutnya Nigari, kalau di Indonesia ditambahkan huruf n menjadi Nigarin.

Peneliti Indonesia yang mempopulerkan Sari Air Laut adalah Dr Nelson Sembiring, seorang periset Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur. Doktor Lingkungan dan Mineralogi itu mengenal Sari Air Laut ketika belajar di Kyoto University, Jepang.

How Nigari is Made

October 25, 2007
How Nigari is Made
Recently various nigari made through different processes have appeared in Japan. Make sure you know what sort of processes there are and what the levels of concentration are before making a purchase.
The processes of making nigari

Nigari is made by drawing up and letting seawater evaporate by exposing it to sunlight and heat. When seawater or saltwater taken from a saltpan is allowed to evaporate, first of all calcium sulfate (also known as gypsum, which is used in cement and is known to cause kidney stones) begins to crystallize. Calcium sulfate thus needs to be removed.

When the seawater has been reduced down to less than 1/10th, sodium chloride begins to crystallize. Finally, small amounts of magnesium sulfate, magnesium chloride and potassium chloride begin to form crystals. However we don’t let the process go that far, because when sodium chloride crystallizes, the liquid at this point contains a large number of minerals such as magnesium chloride, magnesium sulfate and potassium chloride, and is in fact nigari. Nigari has a distinct bitter taste (the word “nigari” is related to the Japanese word for bitterness, “nigai”). In particular magnesium sulfate gives it the bitter taste.

In making nigari, crystals form in the following order:

  • Calcium sulfate (gypsum)
  • Sodium chloride
  • Magnesium sulfate
  • Magnesium chloride
  • Potassium chloride

The different ways of making nigari

Sun dried (natural nigari)

Natural nigari taken from the time-honored process of making salt by putting seawater into a saltpan and letting it dry in the sun. Nigari made by this process still contains large amounts of magnesium sulfate and hence has a very bitter taste. Nigari produced by this process is almost all non-Japanese.

Kettle-boiled (natural nigari)

Natural nigari taken from the water on top of the sodium that crystallizes on the bottom when seawater is boiled down in a large kettle. Almost all the nigari in Japan is produced by this method.

Reverse Osmosis

A process used in the making of deep ocean water.

When changing seawater to freshwater the “reverse osmosis” filter is used. With this reverse osmosis filter all the mineral elements as well as the impurities contained in seawater are removed, making this close to pure fresh water. The nigari taken from the reverse osmosis filter is added to this pure water, making deep ocean water. In other words, nigari water.

But this nigari, made from the reverse osmosis filter, is condensed seawater and is extremely high in salt (sodium) content. Rather than call it nigari, isn’t this just concentrated sea water, or strong saline? Basically nigari ought to be a solution of condensed seawater with the sodium largely removed, so that the sodium content is 1/5th of the magnesium content. The companies using this type of nigari cannot get it in large amounts so almost all of them either dilute it with water or adjust it by adding powdered magnesium. The right balance of minerals is very important for natural nigari.

The Ion Exchange Dialysis Method (natural nigari)The ion exchange filter consists of double-membrane filters (80,000 yen each), with each block having 250 filters, there being hundreds of such blocks. Here sand-filtered seawater is ionized with electrical current, removing only the minerals. At this point PCBs, dioxins, poisonous mineral arsenic, mercury, lead and other such substances are removed. Currently no other system is able to deal with PCBs or dioxins. Also, as the salt water from ion exchange dialysis processed seawater contains almost none of the strong bitter-tasting ion sulfates and the calcium and magnesium sulfates do not crystallize out the resulting liquid is easy to drink. Natural nigari made by this process is very high in mineral content, quality, safety and comes with a reasonable price. This nigari is Japanese made.
OthersGreat deals of chemically synthesized nigaris have appeared due to the recent boom of nigari in Japan. There are substances used as coagulants for tofu with calcium chloride and magnesium chloride added, as well as calcium chloride from non-Japanese sources. Magnesium chloride dissolved in water is also being sold as nigari. This is not unrefined magnesium chloride of seawater but simply unrefined magnesium chloride. We don’t take particular issue with the sale of unrefined magnesium chloride, but it is an extremely important that real nigari has a good balance of minerals.

As nigari itself is a byproduct of the production of salt and hence not easily obtainable in large amounts, there are retailers who sell it diluted with water. Kameyamado’s nigari has a naturally high level of concentration and so should be consumed 3-5 drops at a time, rather than in spoonfuls. There are also dealers who sell unchanged seawater as nigari. Nigari should have roughly five parts magnesium chloride to one part sodium chloride yet there are some products with nearly three times as much sodium chloride as there is magnesium chloride. Sumber:www.kameyamado.com

Sehat dengan Sari Air Laut

October 24, 2007

Pernahkah Anda membayangkan rasa air tuah atau limpasan air
garam laut? Jangankan membayangkan rasanya, mendapati air tuah
sebagai limbah pembuatan garam tentu ingin segera membuangnya.
Sebaliknya, di Jepang dan Eropa, limbah garam yang kaya magnesium
(Mg) ini justru bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan.

      Terapi Sari Air Laut (SAL) mungkin terdengar asing bagi awam.
Nyatanya, terapi ini telah dikembangkan ke berbagai negara di
seluruh belahan dunia. Di Indonesia, dua ilmuwan dari Universitas
Airlangga dan Institut Teknologi Bandung, Prof Bambang Wirjatmadi MD
MS MCN PhD dan Dr Ir Nelson Sembiring MEng memperkenalkan temuannya
pada masyarakat.

  “Limbah air garam justru kaya mineral terutama kandungan
magnesiumnya yang cukup tinggi. Jika limbah itu diekstraksi, sarinya
bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia, terutama untuk kecukupan
gizi magnesium,” ujar Bambang Wirjatmadi yang juga ahli nutrisi.

      Masyarakat Jepang mengenal SAL dengan istilah Nigari atau
nigai, yang artinya pahit. Kristal magnesium yang telah diekstraksi
memang berasa pahit, bukan asin seperti garam. Nigari berupa bubuk
magnesium klorida kerap dipakai untuk koagulan (pengeras) alami
dalam pembuatan tofu (tahu Jepang) serta bahan pendingin alami ikan.

      Menurut Bambang, Asosiasi Air Sehat Dunia (The Water Health
Association, Red) bahkan telah menganjurkan agar di dalam setiap
liter air minum (baca: air putih kemasan) mengandung  sekitar 2,5 –
25 mg magnesium. “Sayangnya, justru air putih kemasan di Indonesia
lebih banyak mengandung kalsium. Idealnya, rasio antara kalsium dan
magnesium 2 : 1, tapi di Indonesia mencapai 4:1, bahkan ada yang
10:1. Kadar kalsiumnya jauh lebih tinggi,” jelasnya.

      Padahal, konsumsi kalsium yang sangat tinggi ini menyebabkan
penyakit batu ginjal dan penyakit jantung koroner (PJK).

  Asupan magnesium pada orang dewasa sehat dianjurkan 400 – 500
mg/hari. Sedangkan pada orang dengan pengobatan tertentu,
diperbolehkan hingga dosis 1000 mg. Sayangnya, masyarakat luas hanya
mampu mengonsumsi magnesium hingga 200 mg/hari, yang bersumber dari
sayur dan buah.
      “Sari air laut yang kaya magnesium ini bermanfaat mencegah
batu ginjal dan PJK, menekan hipertensi, migrain, diabetes,
memperkuat tulang, mencegah osteoporosis, kencing manis, gangguan
hati, sembelit, kram otot, depresi, insomnia, mencegah pengendapan
lemak maupun pengerasan pembuluh darah dan stroke, serta obat
kumur,” bebernya.

      Sementara manfaat untuk kecantikan antara lain digunakan
secara langsung sebagai campuran air spa dan lotion pelembab kulit
atau lotion pembersih wajah. SAL mampu mengangkat kulit mati yang
tidak dapat dilakukan sabun biasa.

      Produk SAL pertama kali di Indonesia diperkenalkan dengan
merek Nigarin. Produk ini telah memenuhi paten pembuatan, nomor
merek dagang, dan surat izin Depkes melalui uji tes akut dan tes sub
klinis oleh Fakultas Farmasi Unair Surabaya. SAL bersumber dari
mineral magnesium alami yang diambil dari air laut pantai Timur
pulau Madura yang bersih.

      Cara penggunaannya, teteskan langsung dalam air minum atau
makanan yang hendak dikonsumsi. Misalnya, dalam semangkuk sup
sebanyak 10 tetes, menggoreng ayam sebanyak 20 tetes, dan memasak
kare sapi sebanyak 30 tetes. Jika hendak dipakai obat kumur, setetes
SAL dalam 50 ml air putih sangat membantu.

Dikenalkan Bangsa Yunani

      Jun Takagi lewat tulisannya yang berjudul The Big Deep : Guide
to Deep-Sea Water Spas menyebutkan sejumlah apartemen di Jepang
serta rumah-rumah spa di Jepang telah memanfaatkan temuan SAL ini.
Shu Uemura tercatat sebagai pemilik spa magnesium pertama di Jepang.
Air kolam renang di sejumlah apartemen di Jepang juga telah
menerapkan pemakaian SAL magnesium ini.

      Uemura terinspirasi membangun spa SAL setelah ia mengunjungi
Natural Energy Laboratory of Hawaii Authority (NELHA) di Kepulauan
Hawaii. SAL di kepulaian Hawaii ini diolah untuk air minum. Uemura
kali pertama menguji coba SAL sebagai bahan kosmetik, selanjutnya
dikembangkan menjadi pusat terapi kecantikan, yakni rumah spa di
Pulau Shikoku Jepang.  

      Terapi sari air laut ini sejatinya juga dikenal dengan istilah
thalassotherapy (Thalassos dalam Bahasa Yunani berarti laut).
Thalassotherapy ini telah dimulai pada abad 19 di daratan Inggris
dan Prancis. Elemen penting yang dipakai dalam terapi ini berupa
mineral magnesium, potasium, kalsium sulfat, dan sodium yang
dicampur dalam lumpur atau ganggang pasta dalam spa.

      Bambang mengatakan, kasus yang sering terjadi di Indonesia
justru defisiensi magnesium. Defisiensi magnesium menyebabkan
keterlambatan gerak reflek dan kelemahan kontraksi otot. Ini juga
terjadi pada orang yang keracunan magnesium, yakni depresi saraf
pusat. “Kelebihan magnesium justru sangat jarang. Kalau kelebihan
biasanya orang tersebut akan mengalami diare,” tukasnya.  Sumber:nabble.com

Sari Air Laut dapat Turunkan Kolesterol dan Cegah Osteoporosis

October 22, 2007

“Nama itu saya ambil karena memang air yang saya hasilkan ini benar-benar dari air laut. Orang menyebutnya air tuah atau air yang didapat dari penguapan/endapan air laut di dalam pembuatan garam. Di atas endapan garam itulah bahan baku sari air laut ini saya temukan,” kata Guru Besar Bidang Reaktor Kimia Insitut Teknologi Sepuluh November ini saat ditemui di kantornya Sukolilo Surabaya, Kamis (26/1).
Menurut pria Asli Jogja, selama ini air tuah oleh masyarakat tambak pembuat garam hanya dijadikan sebagai bibit untuk membuat garam ulang. Hal ini, dikarenakan konsentrasi garamnya yang cukup tinggi, selain itu sisanya kemudian dibuang ke laut. “Dari penelitian yang saya lakukan ternyata air tuah itu cukup banyak manfaatnya. Bahkan, konsentratnya di Jepang dijual cukup mahal, seharga 9,9 dolar per 200 mililiter,” ungkapnya.
Itu sebabnya, ia pernah menjumpai ada orang-orang yang karena ketidaktahuannya kemudian menjual air tuah itu kepada orang asing dan oleh orang asing itu kemudian diekspor. “Sekarang dari hasil penelitian ini ternyata air tuah itu cukup banyak manfaatnya. Mulai untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, mengganti kulit-kulit yang rusak, mencegah osteoporosis hingga memperkuat kerja otot jantung,” jelasnya.
Di Jepang, ungkap Judjono, konsentrat air tuah ini disebut air nigari atau bittern yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan tidak hanya untuk kesehatan tapi juga untuk bahan pembuat tofu, yakni tahu Jepang.
Apa saja kandungan mineral yang terdapat dalam sari air laut sehingga sedemikian banyak manfaatnya? Dari penelitian yang dilakukan suami dari Drg Sukartijah ini, ia menemukan mineral-mineral seperti magnesium sulfat (MgS04), Natrium Chlorida (NaCl), Magnesium Chlorida (MgCl2) dan Kasium Chlorida (KCl).
“Mineral-mineral yang paling berguna untuk tubuh adalah magnesium (Mg). Dalam literatur ternyata unsur Mg sangat dibutuhkan oleh tubuh. Dalam sehari tubuh kita butuh antara 360-420 mg. Jumlah itu, ternyata tidak bisa terpenuhi seluruhnya. Kalaupun kita makan buah-buahan dan sayur-sayuran paling banyak hanya terpenuhi antara 250-280 mg per hari. Kekurangan itulah yang bisa ditopang dengan sari air laut,” ujar laki-laki kelahiran Jogjakarta, 1 Januari 1939 ini.
Diungkapkannya, penelitian yang dilakukannya sebenarnya berawal dari keingintahuan Pemprop Jatim tentang berapa produksi garam yang bisa dicapai oleh propinsi ini di sentra-sentra pembuatan garam di Madura yang meliputi, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
“Dari penelitian itu kami memperoleh kesimpulan, bahwa untuk menghasilkan 1 ton garam, maka dibutuhkan 50 meter kubik air laut dan menghasilkan 1,9 meter kubik air tuah,” katanya.
Di tengah-tengah penelitian itulah, kemudian Judjono mengembangkan penelitian lanjutan untuk memanfaatkan air tuah, yang kini ternyata memiliki kasiat yang besar bagi manusia.
Apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan Judjodo? Penelitiannya, sejak Agustus tahun lalu sudah diajukan untuk memperoleh paten. Selain itu, melalui kajian ekonomi, pihak PT Pantja Wira Usaha Jatim, telah memberikan lampu hijau untuk diproduksi secara pabrikasi. “Memang yang dilakukan ini masih dalam kapasitas laboratorium, tapi saya yakin bisa diproduksi untuk kepentingan pabrikasi dengan hasil yang lebih besar lagi. Beberapa perusahaan air minum dalam kemasan pun sudah meminta sari air laut ini untuk dijadikan tambahan dalam air minumnya, sehingga menjadi air mineral,” jelasnya.
Ia juga sedang menyiapkan hasil penelitiannya itu untuk dikomersialkan, mengingat begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari sari air laut itu. “Saya juga sudah meminta bantuan dari seorang dosen di ITS untuk membuatkan merk dan kemasan supaya layak jual,” ungkapnya.
Memang dalam uji coba yang telah dilakukan, tiga tetes sari air laut telah mengubah rasa air minum dalam kemasan berukuran 240 ml, berasa seperti air zam-zam. “Bagaimana pengaruhnya memang masih dalam tahap penelitian berikutnya. Kini kami sedang melanjutkan ke arah pemeriksaan medis atau farmakologis di fakultas farmasi. Tapi kami yakin manfaatnya cukup banyak, karena di luar negeri konsentrat ini sudah diperjual belikan dengan harga cukup mahal,” tambahnya. *(cr8) Sumber:D-infokom Jatim

Profesor Reaktor Kimia ITS Kembangkan Sari Air Laut

October 22, 2007

Seorang profesor reaktor kimia dari ITS berhasil mengembangkan sari air laut dari bahan air tua yang selama ini hanya diolah untuk membikin garam. Apa manfaatnya bagi kesehatan?

Sosok Prof Ir Judjono Suwarno mirip gambaran seorang profesor pada masa lalu. Di ruang kerjanya di lantai II Jurusan Teknik Kimia tampak bertumpuk banyak buku. Bukan hanya buku baru, tapi juga buku-buku yang sudah lusuh serta pudar warna sampulnya.

Dari ruangan yang sering dipenuhi asap rokok yang disulut si penghuni ruangan itulah Judjono mendapatkan ide untuk membuat formula baru dari air laut. “Namanya sari laut,” kata profesor spesialis bidang reaktor kimia tersebut.

Kebanyakan orang awam berpikir, air laut hanya bermanfaat dalam pembuatan garam. Padahal, bila dipelajari lebih dalam, selain menghasilkan garam, air laut bisa bermanfaat lain. Terutama dalam bidang kesehatan. Tentu, air laut tersebut harus diolah dulu. Dan, dosen jurusan teknik kimia itu berhasil membuktikannya.

Tahap awal yang harus dilakukan untuk membuat sari air laut tersebut, kata dia, adalah mencari bahan baku utama. Bahan utama yang diperlukan adalah air tua. “Air tua merupakan lapisan air paling atas dalam pembuatan garam. Tapi, untuk bisa menjadi sari air laut, air tua harus diproses menggunakan bahan kimia yang telah ditentukan,” jelasnya.

Selama ini, ungkap dia, masyarakat pembuat garam hanya menggunakan air tua sebagai bibit pembuat garam. Sebab, air tua memang mempunyai konsentrasi garam yang cukup tinggi dan sisanya dibuang ke laut. “Dari penelitian yang saya lakukan, ternyata air tua banyak bermanfaat. Bahkan, di Jepang, konsentratnya dijual cukup mahal, yakni USD 9,9 per 200 mililiter,” ujar Judjono.

Selain itu, karena ketidaktahuannya, dia pernah menjumpai masyarakat yang menjual air tua kepada orang asing. Pembeli yang mengetahui manfaat produk berharga itu kemudian mengekspornya.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari air tua. “Dari hasil penelitian, air tua bisa digunakan menurunkan kadar kolesterol dalam darah, mengganti sel-sel kulit yang rusak, mencegah osteoporosis, dan memperkuat kerja otot jantung,” kata laki-laki berusia 67 tahun tersebut.

Di Jepang, kata dia, konsentrat air laut itu disebut nigari yang tidak hanya dimanfaatkan untuk kesehatan, tapi juga pembuatan tofu alias tahu Jepang.

Dia menyatakan, sebelum diproses menjadi sari air laut, air tua harus dipanaskan. Tujuannya, mengurangi konsentrasi garam dan kadar air. Setelah itu, baru dicampur beberapa zat kimia. Apa saja zat kimianya? “Itu rahasia dapur,” ujarnya sambil tertawa.

Sari air laut ternyata mempunyai banyak kandungan mineral. “Dari penelitian yang saya lakukan, sari air laut mengandung mineral-mineral seperti magnesium sulfat (MgS04), natrium chlorida (NaCl), magnesium chlorida (MgCl2), dan kalsium chlorida (KCl),” ungkap bapak asli Jogjakarta itu.

Di antara mineral-mineral tersebut, magnesium (Mg) paling banyak bermanfaat. Dalam literatur, tubuh kita dalam sehari membutuhkan 360-420 mg magnesium.

Jika kita ingin memenuhinya dengan buah-buahan dan sayuran, ternyata itu masih belum cukup. “Buah dan sayuran hanya memenuhi 250-280 mg per hari. Kekurangannya bisa ditopang dengan sari air laut,” katanya.

Penelitian tersebut sebenarnya berawal dari hal yang tak disengaja. Yakni, diawali dari keingintahuan Pemprov Jatim tentang jumlah produksi garam yang bisa dicapai provinsi tersebut. Khususnya di sentra-sentra pembuatan garam di Madura yang meliputi Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

“Dari penelitian itu, kami memperoleh kesimpulan, untuk menghasilkan satu ton garam, dibutuhkan 50 meter kubik air laut dan menghasilkan 1,9 meter kubik air tua,” jelas kakek satu cucu itu.

Di tengah-tengah penelitian tersebut, Judjono mengembangkan penelitian lanjutan dengan memanfaatkan air tua. Dan, hasilnya, air tua ternyata jauh lebih bermanfaat serta bernilai dibandingkan garam.

Apa langkah Judjono selanjutnya? Penelitian yang dilakukan sejak Agustus tahun lalu tersebut sudah diajukan untuk memperoleh paten. Selain itu, melalui kajian ekonomi, banyak pihak yang akan memproduksi secara pabrikasi. Misalnya, PT Pantja Wira Usaha Jatim, BUMD milik Pemprov Jatim; Pemda Sumenep; beberapa UKM (Usaha kecil menengah); serta masyarakat.

“Memang, yang saya lakukan ini masih dalam kapasitas laboratorium. Tapi, saya yakin bisa diproduksi untuk kepentingan pabrikasi dengan hasil yang lebih besar,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, saat ini beberapa perusahaan air minum dalam kemasan sudah meminta sari air laut tersebut untuk dijadikan tambahan dalam air minumnya, sehingga menjadi air mineral.

Dia juga sedang menyiapkan hasil penelitian untuk dikomersialkan karena begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari sari air laut tersebut. “Saya juga sudah meminta bantuan seorang dosen di Dispro ITS untuk membuatkan merek serta kemasan supaya layak jual,” tegasnya.

Menariknya, DPRD Jatim telah memperkenalkan produk tersebut di beberapa negara seperti Jerman dan Jepang. Dalam uji coba yang telah dilakukan, tiga tetes sari air laut mampu mengubah rasa air minum dalam kemasan berukuran 240 ml, sehingga terasa seperti rasa air zamzam (air yang mengandung banyak mineral yang sering dibawa pulang jamaah haji dari sumur zamzam di Makkah).

Di forum terpisah, Dr Ir Suprapto, anggota dewan pakar bidang teknologi Pemprov Jatim, dalam forum seminar yang diadakan di Riset Centre ITS, Kamis lalu, menegaskan secara teknis bahwa produk tersebut aman dan tidak bermasalah. “Air yang mengandung sari laut mengandung banyak mineral, terutama magnesium,” ujarnya. (ratih pramita aisyah)

http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=210322

Limbah Garam

October 22, 2007

Ternyata tidak banyak yang tahu, limbah garam yang selama ini dibuang pengusaha dan petani garam di Madura atau di tempat lain, memiliki manfaat besar. Nelson Sembiring, salah satu peneliti SDA di Balitbang Prov Jatim, selama 4 tahun berhasil menemukan manfaatnya. Hebatnya, limbah ini mampu mengobati berbagai penyakit layaknya obat sapujagat.

”Nigarin atau Sari Air Laut (SAL) sangat baik terapi kesehatan, kecantikan, dan pengobatan penyakit degeneratif,” kata Nelson Sembiring, kemarin.

Pria lulusan S2 dan S3 di Fakultas SDA dan Mineralogi Kioyo University Tokyo Jepang ini mengemukaan, dalam Nagirin banyak mengandung magnesium yang sangat di butuhkan sistem pusat syaraf dan pembuluh darah. Karena itu, semua penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah dan syaraf dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi magnesium dalam jumlah cukup.

Kekurangan Magnesium, terang Pria yang menyelesaikan SI-nya di Teknik Pertambangan ITB 1988 ini, akan mengakibatkan serangan penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, diabetes melitus, detak jantung tidak normal, aterosklerosis, engina pektors, hipertensi, asma bronkial, epilepsi atau ayan, autisme, hiperaktivitas, batu ginjal, rasa sakit ketika haid, kecanduan alkohol, kelelahan, osteoporosis, ansietas (rasa cemas yang berlebihan), insomnia (tidak bisa tidur), keram otot, dan depresi.

“Sebagian besar kandungan material yang menumpuk didinding pembuluh darah arteri adalah kalsium,” terang pria asal Medan ini.

Para ahli gizi WHO menganjurkan konsumsi kalsisum (Ca) atau magnesium (Mg) adalah 2:1. Bila kebutuhan Ca adalah 1000 – 1200 mg per hari, maka kebutuhan magnesium adalah 450 mg perhari.

“Kurang dari itu, akan terjadi penyumbatan arteri koroner, yang akan mengakibatkan otot jantung kekurangan pasokan makanan dan oksigen. Sayangnya, di masyarakat awam, pentingnya magnesium untuk kesehatan belum sepopuler kalsium,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Sumberdaya Mineral KADIN Jatim ini.

Promosi yang sangat gencar akan produk-produk dengan kalsium tinggi, mulai dari suplemen dalam bentuk tablet effervecent, biskuit, minuman kesehatan, hingga susu dan produk-produk olahannya. Sedang di negara lain, misalnya Jepang penggunaan Magnesium telah gencar digalakkan.

Bahkan untuk konsumsi Magnesium ini, lanjut Nelson, Jepang telah mengimpor Nigarin dari Indonesia sebesar 5000 liter per bulan. Sedang di Indonesia, baru mengkonsumsi 1000 liter saja.

”Kemungkinan efek samping dari konsumsi Sari Air Laut (Nigarin) yang kaya magnesium pada dosis tinggi adalah diare, tetani (kontraksi otot), dan tekanan darah rendah,” jelasnya. (ska)

Hello world!

October 22, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.